(Syaharuddin, S.Ag)
Berakhirnya bulan suci ramadhan bukan berarti berakhir pula untuk berbicara tentang Ramadhan, karena bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat istimewa. Minimal kita bisa menyebut bulan Ramadhan sebagai bulan tarbiyah (Bulan pendidikan).
Sebagai bulan pendidikan tentu mengandung arti bahwa semestinya ia menjadi ladang untuk meningkatkan kualitas diri bagi yang dapat mengisinya dengan benar. Dalam mengisi Ramadhan umat Islam terbagi menjadi 3 kategori :
Pertama; Muslim yang senang dengan datangnya bulan Ramadhan. Muslim dengan kategori ini biasanya memanfaatkan bulan Ramadhan secara efektif, sehingga semua waktu dipergunakan untuk beribadah kepada Allah SWT. karena mereka menyadari bahwa sangat banyak kebaikan didalam bulan suci Ramadhan, diantaranya dilipatgandakan pahala dari segala amal kebaikan. Mereka mengisi Ramadhan selain dengan puasa biasanya dengan memperbanyak shalat sunnah, tadarus Al- Qur’an, berdzikir dan mengeluarkan infak dan shadaqah serta ibadah lainnya.
Kedua; Muslim yang biasa-biasa saja dengan datangnya bulan Ramadhan. Sedangkan Muslim dengan kategori ini biasanya dalam bulan Ramadhan hanya melakukan puasa karena kewajiban dan melakukan amalan sunnah bila sempat. Bagi mereka bulan Ramadhan sama dengan bulan bulan yang lain, sehingga ibadah yang mereka lakukan sama dengan ibadah diluar bulan Ramadhan., bahkan bagi mereka terasa sedikit berat melakukan puasa, apalagi amalan-amalan sunnah.
Ketiga; Muslim yang terganggu dengan datangnya bulan Ramadhan. Aneh tapi nyata. Muslim dengan kategori ini merasa bahwa datangnya bulan Ramadhan membawa beban yang berat, karena mereka wajib berpuasa dan harus meninggalkan kebiasaan buruk yang biasa dilakukan di luar bulan ramadhan. Biasanya mereka cendrung tidak berpuasa dan meskipun berpuasa tapi dengan banyak mengeluh dan tetap melakukan kebiasaan buruk di luar bulan Ramadhan.
Tipe yang manakah saya?
Bagaimana kita menjalankan Ramadhan sangat menentukan layak tidaknya kita merayakan I’dul Fitri . Mengapa demikian ?
Kalau kita lihat dari sisi arti, I’dul Fitri artinya kembali kepada kesucian. Tentu yang kembali kepada kesucian adalah mereka yang benar-benar mengisi Ramadhan dengan benar sehingga Ramadhan mampu menjadi wahana untuk perbaikan diri. Selama ini I’dul Fitri salah diartikan oleh sebagian umat Islam, karena mereka beranggapan bahwa I’dul Fitri untuk semua umat Islam, baik yang mengisi Ramadhan dengan benar maupun tidak, sehingga I’dul Fitri kehilangan ruhnya menjadi hari untuk berpestapora yang lebih banyak mengandung mudharat dari manfaatnya.
Untuk melihat berhasil tidaknya Ramadhan melatih kita untuk mengadakan perbaikan diri tidak hanya dilihat pada saat Ramadhan, tapi juga setelahnya. Mereka yang berhasil adalah mereka yang mengaplikasikan nilai-nilai Ramadhan pada 11 bulan berikutnya dan sebaliknya yang tidak berhasil adalah mereka yang kembali pada nilai-nilai sebelum Ramadhan.
Sebagai bulan pendidikan tentu mengandung arti bahwa semestinya ia menjadi ladang untuk meningkatkan kualitas diri bagi yang dapat mengisinya dengan benar. Dalam mengisi Ramadhan umat Islam terbagi menjadi 3 kategori :
Pertama; Muslim yang senang dengan datangnya bulan Ramadhan. Muslim dengan kategori ini biasanya memanfaatkan bulan Ramadhan secara efektif, sehingga semua waktu dipergunakan untuk beribadah kepada Allah SWT. karena mereka menyadari bahwa sangat banyak kebaikan didalam bulan suci Ramadhan, diantaranya dilipatgandakan pahala dari segala amal kebaikan. Mereka mengisi Ramadhan selain dengan puasa biasanya dengan memperbanyak shalat sunnah, tadarus Al- Qur’an, berdzikir dan mengeluarkan infak dan shadaqah serta ibadah lainnya.
Kedua; Muslim yang biasa-biasa saja dengan datangnya bulan Ramadhan. Sedangkan Muslim dengan kategori ini biasanya dalam bulan Ramadhan hanya melakukan puasa karena kewajiban dan melakukan amalan sunnah bila sempat. Bagi mereka bulan Ramadhan sama dengan bulan bulan yang lain, sehingga ibadah yang mereka lakukan sama dengan ibadah diluar bulan Ramadhan., bahkan bagi mereka terasa sedikit berat melakukan puasa, apalagi amalan-amalan sunnah.
Ketiga; Muslim yang terganggu dengan datangnya bulan Ramadhan. Aneh tapi nyata. Muslim dengan kategori ini merasa bahwa datangnya bulan Ramadhan membawa beban yang berat, karena mereka wajib berpuasa dan harus meninggalkan kebiasaan buruk yang biasa dilakukan di luar bulan ramadhan. Biasanya mereka cendrung tidak berpuasa dan meskipun berpuasa tapi dengan banyak mengeluh dan tetap melakukan kebiasaan buruk di luar bulan Ramadhan.
Tipe yang manakah saya?
Bagaimana kita menjalankan Ramadhan sangat menentukan layak tidaknya kita merayakan I’dul Fitri . Mengapa demikian ?
Kalau kita lihat dari sisi arti, I’dul Fitri artinya kembali kepada kesucian. Tentu yang kembali kepada kesucian adalah mereka yang benar-benar mengisi Ramadhan dengan benar sehingga Ramadhan mampu menjadi wahana untuk perbaikan diri. Selama ini I’dul Fitri salah diartikan oleh sebagian umat Islam, karena mereka beranggapan bahwa I’dul Fitri untuk semua umat Islam, baik yang mengisi Ramadhan dengan benar maupun tidak, sehingga I’dul Fitri kehilangan ruhnya menjadi hari untuk berpestapora yang lebih banyak mengandung mudharat dari manfaatnya.
Untuk melihat berhasil tidaknya Ramadhan melatih kita untuk mengadakan perbaikan diri tidak hanya dilihat pada saat Ramadhan, tapi juga setelahnya. Mereka yang berhasil adalah mereka yang mengaplikasikan nilai-nilai Ramadhan pada 11 bulan berikutnya dan sebaliknya yang tidak berhasil adalah mereka yang kembali pada nilai-nilai sebelum Ramadhan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar